Welcome to Mooza Alkaz Website

"Beruntunglah Orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tiada berguna" QS. Al-Mukminun: 1-3

Menjadi Pribadi yang Taat dan Manfaat

"Beruntunglah Orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tiada berguna" QS. Al-Mukminun: 1-3

Ambilah Kebaikanku

"Beruntunglah Orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tiada berguna" QS. Al-Mukminun: 1-3

Lihatlah Ucapanku

"Beruntunglah Orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tiada berguna" QS. Al-Mukminun: 1-3

Jangan Melihat Siapa Aku

"Beruntunglah Orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tiada berguna" QS. Al-Mukminun: 1-3

Selasa, 22 Januari 2013

MAKALAH ORGANISASI PENDIDIKAN


BAB I

1.1 Pendahuluan
            Keberadaan manusia di dunia ini tidak lepas dari keanggotaan suatu organisasi. Organisasi merupakan sebuah wadah dimana setiap orang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan bersama. Organisasi dapat diidentifikasi sebagai keluarga, rukun warga hingga antar provinsi bahkan antar negara. Keharusan manusia saat ini berada dalam suatu organisasi ditujukan untuk mencapai tujuan bersama dengan lebih efektif dan efisien. Dunia pendidikan sebagai investasi dalam pembangunan sumber daya manusia (SDM) merupakan upaya yang dilakukan dalam konteks organisasi, dimana pada zaman modern ini para orang tua dengan berbagai kesibukannya lebih mempercayakan proses pendidikan bagi anaknya kepada organisasi pendidikan formal (Sekolah/Madrasah). Dengan demikian, proses pendidikan dalam sebuah organisasi menunjukan bahwa keberadaan organisasi pendidikan tersebut ditujukan untuk mencapai tujuan pendidikan secara lebih efektif dan efisien.
1.2 Tujuan
Dalam kajian makalah ini kami mempunyai tujuan memperkenalkan dunia organisasi kepada masyarakat khususnya kepada para peserta didik dalam mendalami organisasi pendidikan demi pencapaian tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.
1.3 Manfaat
            Dengan disusunnya makalah ini diharapkan dapat memberikan tanggapan terhadap kajian dunia organisasi baik organisasi dalam ruang lingkup masyarakat maupun organisasi pendidikan yang dapat menjadikan sebuah wadah dimana antar individu atau kelompok dapat saling berinteraksi demi pencapaian suatu tujuan bersama.





BAB II

1)        PENGERTIAN ORGANISASI
Organisasi didefinisikan secara bervariasi oleh para ahli yang dilihat dari berbagai sudut pandang diantaranya :
Ø  Menurut Gibson, Ivancevich, dan Donelly
Organisasi sebagai wadah yang memungkinkan masyarakat dapat meraih hasil yang sebelumnya tidak dapat dicapai oleh individu secara sendiri-sendiri. Definisi ini lebih menekankan pada upaya peningkatan pencapaian tujuan bersama secara lebih efektif dan efisien melalui koordinasi antar unit organisasi.
Ø  Menurut Stepen P. Robbins
Organisasi merupakan kesatuan (Entity) sosial yang dikoordinasikan secara sadar, dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasi untuk mencapai suatu tujuan bersama. Definisi ini menekankan bahwa organisasi adalah suatu sistem sosial yang perlu dikoordinasikan/perlunya manajemen, batasan organisasi akan berubah sebagaimana tuntutan lingkungannya sehingga dikatakan “relatif”.
Ø  Menurut Oteng Sutisna
Organisasi merupakan mekanisme yang mempersatukan kegiatan-kegiatan untuk menyelesaikan pekerjaan. Defnisi ini menekankan pada mekanisme kerja dalam organisasi untuk mencapai tujuan.
Dari berbagai definisi diatas dapat disimpulkan bahwa Organisasi adalah suatu sistem interaksi antar orang yang ditujukan untuk mencapai tujuan organisasi, dimana sistem tersebut memberikan arahan perilaku bagi antar anggota organisasi dengan lingkungannya agar tujuan organisasi dapat tercapai secara efektif dan efisien.







2)        ASPEK-ASPEK ORGANISASI
Aspek-aspek dalam organisasi adalah komponen-komponen yang harus ada dalam suatu organisasi. Keberadaan komponen ini sebagai pilar dari suatu organisasi.  Artinya jika salah satu komponen organisasi tidak berfungsi, maka organisasi akan  berjalan pincang atau sama sekali tidak berjalan. Dalam pandangan sistem organisasi mengalami entrophy, yaitu kondisi dimana organisasi dikategorikan hancur (dalam tanaman digambarkan sebagai kondisi layu).
O’Connor, T. Mengungkapkan bahwa organisasi setidaknya harus memiliki empat komponen utama, yaitu: mission (misi), goals (tujuan-tujuan), objectives (sasaran-sasaran), dan behavior (perilaku). Keempat komponen ini dapat digambarkan sebagai berikut.
MISSION

GOALS

OBJECTIVES

BEHAVIOR

Ø  Mission  adalah alasan utama keberadaan suatu organisasi.
Ø  Goals adalah tujuan-tujuan umum/divisi fungsional organisasi yang dihubungkan dengan stakeholder organisasi.
Ø  Objectives adalah hasil/sasaran yang spesifik, terukur dan terkait dengan tujuan.
Ø  Behavior mengacu pada produktivitas dari tugas-tugas rutin pegawai, pertanggungjawaban perilaku dalam pencapaian tujuan merupakan fungsi personalia.
Jika suatu organisasi tidak memiliki misi dan objek yang akan dilaksanakan maka setiap anggota akan kebingungan dalam mencapai tujuan organisasinya, hal ini menunjukan bahwa empat komponen organisasi tersebut saling berkaitan satu sama lain sehingga tidak akan berfungsi suatu organisasi jika salah satu komponennya hilang.
3)        JENIS-JENIS ORGANISASI

Pekemabangan kajian organisasi diawali dari kajian organisasi sebagai organisasi formal, yaitu organisasi yamg didesain untuk mencapai tujuan bersama. Perkembangan ini terus berlangsung dan berbagai studi keorganisasian terus dilakukan. Perkembangan inilah pada akhirnya memunculkan organisasi informal sebagai implikasi dari adanya organisasi formal.  
A.  Organisasi formal
Organisasi formal adalah organisasi yang dicirikan oleh struktur organisasi. Keberadaan struktur organisasi menjadi pembeda utama anatra organisasi formal dan informal. Struktur dalam organisasi formal dimaksudkan untuk menyediakan penugasan kewajiban dan tanggung jawab kepada personil dan untuk membangun hubungan tertentu diantara orang-orang pada berbagai kedudukan. (Oteng  Sutisna, 1993:207). Sekolah dasar merupakan contoh sebuah organisasi formal.
Struktur dalam organisaasi formal memperlihatkan unsur-unsur administratif berikut :
1)        Kedudukan struktur menggambarkan letak/posisi setiap orang dalam  organsasi tanpa kecuali. Kedudukan seorang dalam struktur oragnisasi mencerminkan sejumalah kewajiban sebagai bagian dari upaya pencapaian tujuan dan hak-hak yang dimiliki secara formal dalam posisi yang didudukinya. Sebagai contoh, kepala sekolah adalah salah satu contoh kedudukan dalam struktur organisasi  sekolah. Kedudukan sebagai kepala sekolah ini mencerminkan adanya sejumlah kewajiban yang harus dilakukan pemangku jabatan sebagai pimpinan dan manajer sekolah, juga mempelihatkan adanya hak-hak yang diterima secar formal manakala seseorang menjabat sebagai kepala sekolah.
2)        Hierarki/kekuasaan. Struktur digambarkan sebagai suatu rangkaian hubungan antara satu orang dengan orang lainnya dalam suatu organisasi. Rangkaian hubungan ini mencerminkan suatu hirarki kekuasaan yang inheren dalam setiap kedudukan. Tanggung jawab merupakan suatu istilah yang melekat dalam setiap kedudukan dan hirarki kekuasaan di dalam organisasi. Adanya hirarki kekuasaan menunjukan bahwa pecapaian organisasi dibagi kepada berbagai komponen organisasi diimplementasikan secara sinergi melalui hirarki kekuasaan masing-masing yang dikoordinasikan dan dipimpin oleh manajer puncak. Dalam organisasi persekolahan, hirarki kekuasaan tertinggi adalah kepala sekolah.
3)        Kedudukan garis dan staf. Organisasi garis menegaskan struktur pengambilan keputusan, jalan permohonan dan saluran komunikasi resmi untuk melaporkan informasi dan mengeluarkan instruksi, perintah, dan petunjuk pelakasanaan. Kedudukan garis ialah kedudukan yang diserahi kekuasaan administrative umum dalam arus langsung dari tempat paling atas ke tempat paling bawah. Kedudukan staf mewakili keahlian-keahlian khusus yang diperlukan bagi berfungsinya kedudukan garis tertentu dengan pasti. (Sutisna, 1993:208).
















Contoh Struktur Organisasi Pedidikan (SMP/SMA)



B.       Organisasi Informal
Interaksi antara orang dalam organisasi formal pasti akan menghasilkan sebuah perkembangan hubungan yang tidak saja hubungan struktural, terlebih pada organisasi persekolahan, dimana kekeluargaan menjadi salah satu landasan perilakunya. Perkembangan hubungan dari interaksi orang dalam organisasi ini akan mengikat secara kuat sentiment dan komitmen setiap orang, sehingga muncul empati da simpati satu sama lain. Hubungan inilah yang terus tumbuh selama organisasi formal itu ada yang dinamakan organisasi informal. Hubungan interaksi ini tidak berstruktur sebagaimana struktur organisasi formal.
Walaupun sulit mengidentifikasi keberadaannya secara kasat mata, namun keberadaan organisasi informal ini dapat dilihat dari tiga karakteristik, yaitu norma perilaku, tekanan untuk menyesuaikan diri, dan kepemimpinan informal (Sutisna, 1993 : 221). Norma perilaku adalah standar perilaku yang diharapkan menjadi perilaku bersama yang ditetapkan oleh kelompok (orang-orang dalam organisasi) dalam sebuah kesepakatan sosial, sehingga sangsinya pun sangsi sosial. Norma perilaku dalam organisasi informal tidak tertulis sebagaimana organisasi formal, tetapi menjadi kesepakatan bersama diantara orang-orang di dalam organisasi.
Tekanan untuk menyesuaikan diri akan muncul apabila seseorang akan bergabung dengan suatu kelompok informal. Menggabungkan diri dengan suatu kelompok tidak sekedar bergabung secara fisik dalam suatu kumpulan, tetapi melibatkan sosial-emosional individu-individu dalam organisasi informal tersebut. Karena itu organisasi informal sering muncul dalam bentuk kelompok-kelompok yang tidak terlalu besar , karena syarat keberterimaan sebagai bagian dari organisasi informal ini tidak saja keanggotaan dalam organisasi formalnya, tetapi lebih spesifik pada kesamaan antar individu (kesamaan daerah agama, nilai yang dianut, hobi dan sebagainya).
Kepemimpinan informal dalam organisasi informal menjadi salah satu komponen yang kuat mempengaruhi anggota di dalam organisasi, bahkan memungkinkan melebihi pengaruh pemimpin organisasi formal. Pemimpin informal muncul dari kelompok dan membimbing serta mengarahkan melalui persuasi dan pengaruh. Kepemimpian dalam organisasi informal sangat kuat pengaruhnya, karena inilah kepemimpinan yang sesungguhnya, dimana seseorang dipatuhi bukan karena memiliki jabatan, tetapi ada kelebihan yang secara alamiah dan mampu mempengaruhi orang lain tanpa paksaan.
4)        DIMENSI ORGANISASI
Dalam kacamata para ahli organisasi, dimensi struktur organisasi memiliki keragaman pandangan, bahkan dikatakan tidak ada kesepakatan umum diantara para teoritikus mengenai apa yang diartikan sebagai struktur organisasi. (Robbins, 1994:91). Lebih jauh Robbins menyimpulkan bahwa para teoritikus pada umumnya setuju dengan dimensi struktur organisasi tetapi tidak setuju dengan  definisi-definisi operasionalnya.
Dalam konteks itu Robbins mengemukakan tiga komponen yang menjadi dimensi struktur organisasi, yaitu kompleksitas, formalisasi, dan sentralisasi.
a.        Kompleksitas
Kompleksitas adalah tingkat diferensiasi (perbedaan) yang  ada di dalam sebuah organisasi (Robbins, 1994:91). Diferensiasi dapat dilihat secara horizontal, vertikal, dan spasial.
Ø  Diferensiasi horizontal adalah perbedaan antara unit-unit berdasarkan orientasi para anggotanya, sifat dari tugas yang mereka laksanakan, tingkat pendidikan dan pelatihan pegawai. Dengan kata lain, semakin banyak pekerjaan yaang harus dilakukan pegawai dalam organisasi, maka semakin beragam pula organisasi tersebut. Kondisi nyata dari diferensiasi horizontal adalah spesialisasi dan departementalisasi.
Spesialisasi merupakan pengelompokan aktivitas tertentu yang dilakukan satu individu. Spesialisasi terdiri dari spesialisasi fungsional dan sosial. Spesialisasi fungsional dicirikan oleh pekerjaan yang dipecah-pecah menjadi tugas yang sederhana dan berulang-ulang. Spesialisasi sosial dicirikan oleh individu yang dispesialisasi, bukan pekerjaannya, dan pekerjaannya tidak bersifat rutin. Sedangkan Departementalisasi adalah cara organisasi secara khas mengkoordinasikan aktivitas yang telah dibedakan secara horizontal.
Ø  Diferensiasi vertikal adalah pembedaan yang didasarkan pada kedalaman struktur. Semakin banyak tingkatan yang terdapat diantara Top Management dan tingkat Hierarki yang paling rendah, makin besar pula potensi terjadinya  distorsi/gangguan dalam komunikasi dan semakin sulit mengkoordinasi pengambilan keputusan dari pegawai manajerial, sertamakin sukar bagi top management untuk mengawasi kegiatan bawahannya.


Ø  Diferensiasi spasial adalah pembedaan yang didasarkan pada kondisi geografis, yakni sejauh mana lokasi (kantor) tempat produksi (barang/jasa), personalia, dan kantor pusat tersebar secara geografis. Sekolah-sekolah dari satu yayasan yang tersebar di berbagai kabupaten/kota merupakan salah satu organisasi yang dikategorikan diferensiasi spasial. Pembedaan ini akan memunculkan kompleksitas dalam struktur organisasi.

b.        Formalisasi
Formalisasi adalah tingkat sejauhmana pekerjaan di dalam organisasi distandarkan. Konsekwensinya adalah pemegang pekerjaan hanya mempunyai sedikit kebebasan mengenai apa yang harus dikerjakan, bilamana mengerjakannya, dan bagaimana ia harus melakukannya. Formalisasi sebaiknya tertulis untuk dapat memberikan kekuatan pada pengarahan perilaku pegawai. Dalam konteks itu formalisasi diartikan sebagai sebuah tingkat dimana peraturan, prosedur, instruksi dan komunikasi ditulis.
Formalisasi penting karena standarisasi perilaku akan mengurangi keanekaragaman. Standarisasi juga mendorong koordinasi dan penghematan. Organisasi yang melakukan standarisasi akan memiliki berbagai manual organisasi, seperti manual akuntansi, manual personalia, manual diklat dan sebagainya. (contoh Restaurant yang menjamur disetiap kota besar).
Teknik-teknik yang dapat digunakan untuk melakukan standarisasi perilaku pegawai adalah seleksi (yang efektif) ; persyaratan peran (analisis yang tepat) ; peraturan, prosedur, dan kebijaksanaan ; pelatihan ; dan ritual (bagian dari budaya organisasi).

c.         Sentralisasi
Sentralisasi adalah tingkat dimana pengambilan keputusan dikonsentrasikan pada suatu titik tunggal dalam organisasi. Konsentrasi keputusan yang tinggi adalah sentralisasi yang tinggi, sedangkan konsentrasi keputusan yang rendah adalah sentralisasi yang rendah atau disebut desentralisasi.




Desentralisasi mengurangi kemungkinan terjadinya beban informasi yang berlebihan, memberikan tanggapan yang cepat terhadap informasi yang baru, memberikan masukan yang lebih banyak bagi sebuah keputusan, mendorong terjadinya motivasi, dan merupakan sebuah alat yang potensial untuk melatih para manager dalam mengembangkan pertimbangan yang baik. Sebaliknya sentralisasi menambah suatu persfektif yang menyeluruh terhadap keputusan-keputusan dan dapat memberikan efesiensi yang berarti. (Robbins, 1994 : 127).

5)        DESAIN ORGANISASI
Desain organisasi didasarkan pada elemen-elemen umum dalam organisasi. Mintzberg (Robbins 1994 : 304) menyebutkan lima elemen umum dalam suatu organisasi yaitu :
1.        The operating core. Para pegawai yang melaksanakan pekerjaan dasar yang berhubungan dengan produksi dari produk dan jasa. Dalam organisasi sekolah pegawai ini adalah guru (pengajar), guru dikatakan sebagai ujung tombak pendidikan yang berinteraksi langsung dengan layanan jasa pembelajaran kepada peserta didik.
2.        The strategic apec. Manager tingkat puncak yang diberi tanggung jawab keseluruhan untuk organisasi. Pada organisasi sekolah, orang ini adalah kepala sekolah.
3.        The middle line. Para manager yang menjadi penghubung operating core dengan strategic apex. Dalam konteks perguruan tinggi orang-orang ini adalah para dekan yang bertugas memfasilitasi strategic apex  untuk terimplementasi pada level jurusan. Di organisasi sekolah, posisi ini dapat diidentifikasi sebagai wakil kepala sekolah yang bertugas menjembatani kebijakan strategis sekolah supaya dapat terimplementasi pada level guru-guru dan staf.
4.        The techno structure. Para analis yang mempunyai tanggung jawab untuk melaksanakan bentuk standarisasi tertentu dalam organisasi.
Dalam konteks organisasi pendidikan di Indonesia, masing jarang sekolah yang memiliki tenaga ini.  Namun demikian tidak menutup kemungkinan pada sekolah-sekolah tertentu ada yang memiliki elemen organisasi ini. Pada perguruan tinggi BHMN seperti UPI, elemen organisasi  yang bertanggung jawab untuk melakukan standarisasi adalah satuan penjamin mutu.
5.        The support staff. Orang-orang yang mengisi unit staf, yang memberi jasa pendukung tidak langsung kepada organisasi. Di persekolahan staf ini dikenal dengan tenaga administratif sekolah (TAS).

Berdasarkan lima elemen yang dikemukakan Mintzberg inilah, Robbins menganalisis desain organisasi yang berbeda. Perbedaan desain organisasi dikarenakan organisasi memiliki sistem dam aturan yang berbeda dalam kelima elemen tersebut. Lima konfigurasi umum yang dimaksud adalah struktur sederhana, birokrasi mesin, birokrasi profesional, struktur divisional, dan adhocracy.
Struktur sederhana disarankan untuk organisasi yang kecil dengan karakteristik organisasi yang masih dalam tahap awal dibentuk, lingkungan organisasi sederhana dan dinamis, menghadapi krisis, atau jika yang mempunyai kekuasaan dalam organisasi ingin agar kekuasaan tersebut disentralisasi.
Birokrasi mesin didesain untuk organisasi yang secara efektif dapat menangani ukuran yang besar, lingkungan yang sederhana dan stabil, dan sebuah tekhnologi yang terdiri atas pekerjaan yang rutin dan distandarisasi.
Birokrasi profesional yang didesain untuk pekerjaan yang rutin, hanya saja para anggota birokrasi profesional adalah para spesialis teknis yang menghadapi sebuah lingkungan yang kompleks. Intinya agar operasional keseharian yang kompleks dapat berjalan secara efektif.
Struktur divisional banyak persamaan dengan birokrasi mesin. Struktur ini didesain untuk menanggapi strategi yang  menekankan kepada keanekaragaman pasar atau produk, dimana organisasi tersebut besar, tekhnologinya dapat dibagi-bagi, dan lingkungannya cenderung untuk menjadi sederhana dan stabil.
Adhocracy meminta agar manajemen puncak melepaskan kebanyakan pengawasan. Konfigurasi ini cocok untuk organisasi yang memiliki stategi variatif, beresiko tinggi, teknologi tidak rutin, atau lingkungannya mungkin dinamis atau kompleks.
                                                   







Tabel Perbedaan kelima konfigurasi di atas berikut ini :

No
Karakteristik
Struktur Sederhana
Birokrasi Mesin
Birokrasi Profesional
Struktur Divisional
Adhocracy
1.
Spesialisasi
Rendah
Fungsional tinggi
Sosial tinggi
Fungsional tinggi
Sosial tinggi
2.
Formalisasi
Rendah
Tinggi
Rendah
Tinggi diantara divisi-divisi
Rendah
3.
Sentralisasi
Tinggi
Tinggi
Tinggi
Rendah terbatas
Rendah
4.
Lingkungan
Sederhana & Dinamis
Sederhana & Stabil
Kompleks & Stabil
Sederhana & Stabil
Kompleksitas & Dinamis
5.
Klasifikasi Struktural
Organik
Mekanistik
Mekanistik
Mekanistik
Organik


6)        SEKOLAH SEBAGAI ORGANISASI SOSIAL

1.        Element Kunci Sekolah Sebagai Organisasi Sosial
Setiap organisasi akan memiliki aktivitas untuk mencapai tujuannya. Pencapaian tujuan organisasi akan meminta sejumlah aktivitas individu atau kolektif dari anggota organisasi yang harus dikoordinasikan agar terarah pada pencapaian tujuan. Disinilah interaksi social akan berlangsung, interaksi ini tidak saja dipengaruhi oleh struktur organisasi dan individu-individu yang mengisi struktur, tetapi juga dipengaruhi oleh budaya, politik, teknik produksi, dan lingkungan organisasi (khususnya lingkungan strategis).
2.        Sekolah Sebagai Organisasi Pembelajaran (Learning Organization)
Learning Organization diperkenalkan oleh oleh Peter Senge sekitar tahun 1990 yang kemudian berkembang pesat dan menghasilkan berbagai aplikasi dalam berbagai bidang keilmuan, salah satunya dalam bidang manajemen.
Leithwood dan Louis (1998) (Hoy dan Miskel, 2001 : 32)mengemukakan “Learning Organization is one in which the participant pursue with a collective commitment to routinely assessing the value of those purposes, modifying them when appropriate, and continually developing more effective and efficient ways to achieve those purposes”. ( LO adalah satu cara dimana seseorang dengan komitmen bersama menilai secara rutin tujuan-tujuan mereka, memodifikasi tujuan-tujuan tersebut manakala sesuai dan secara terus menerus mengembangkan dengan cara yang lebih efektif dan  efisien untuk mencapai tujuan tersebut ).
Kemampuan suatu organisasi bertahan hidup ditentukan oleh sumber daya manusia organisasinya, karena organisasi dibuat, digerakan dan diorientasikan untuk mencapai tujuan manusia, manusia adalah unsur yang paling pokok dalam suatu organisasi, dan oleh manusia-manusia unggul lah suatu organisasi akan tetap pada kondisi bertahan dan berkembang.
Pandangan organisasi sebagai sistem sosial menunjukan bahwa organisasi merupakan sistem yang terbuka dan berinteraksi dengan lingkungannya secara dinamis. Interaksi ini berkembang sesuai dengan perkembangan zaman dan IPTEK. Kondisi tersebutlah yang mengharuskan SDM organisasi tidak saja memiliki kompetensi dalam melaksanakan tugasnya, tetapi juga harus terus melakukan pengembangan dan adaptasi terhadap perkembangan zaman, dengan kata lain harus terus belajar agar mampu bertahan dan berkembang ( Survival and Growth ).
Pada dunia pendidikan yang harus dicermati dari keberadaan sekolah pada interaksinya dengan lingkungan sekolah yang dinamis adalah menjadikan sekolah sebagai tempat belajar untuk semua orang, tidak saja peserta didik yang harus belajar, tetapi semua staf dan dan pihak yang terkait dengan pengelolaan sekolah yang harus turut serta. Supaya dalam menghadapi permasalahan dapat terkendali secara bersama dan kemudian mencoba berbagai cara untuk menghasilkan lulusan yang lebih unggul atau hasil lebih baik.






Cara yang harus dilakukan oleh kepala dan staf sekolah untuk menjadikan sekolah sebagai tempat LO adalah :
a)         Menemukan berbagai cara untuk membuat struktur organisasi sekolah yang secara terus menerus mendukung layanan pembelajaran dan memperluas kemampuan adaptasi organisasi
b)        Mengembangkan iklim dan budaya organisasi yang memiliki karakteristik terbuka, kerjasama, dan mampu mengatur diri sendiri
c)         Mengidentifikasi individu yang progresif, sukses, dan terbuka untuk perubahan
d)        Mencegah kekerasan, penyelewengan dan politik yang tidak benar dalam layanan pembelajaran
e)         Memimpin dengan model kepemimpinan transformasional
f)         Berkomunikasi secara terbuka dan berkelanjutan
g)        Membuat keputusan partisipatif
h)        Mengembangkan kapasitas sekolah untuk merespon berbagai masalah secara efektif dan menyeluruh bukan secara sporadis.













KESIMPULAN
       Organisasi adalah suatu sistem interaksi antar orang yang ditujukan untuk mencapai tujuan organisasi, dimana sistem tersebut memberikan arahan perilaku bagi anggota organisasi. Pandangan organisasi saat ini tidak lagi sebagai mesin birokrasi tetapi sebagai sistem sosial.
       Pandangan organisasi sebagai sistem sosial adalah pandangan formal, namun keberadaan organisasi formal tidak dapat menghindari keberadaan organisasi informal. Keberadaan keduanya merupakan suatu sinergi upaya pencapaian tujuan organisasi. Dalam konteks itu, organisasi formal dicirikan oleh tiga dimensi utama, yaitu kompleksitas, formalisasi, dan sentralisasi. Keberagaman dalam dimensi struktur organisasi ini kemudian membawa implikasi pada keragaman desain organisasi.
       Sekolah sebagai suatu organisasi juga dipandang sebagai sistem sosial yang terbuka terhadap lingkungan organisasi. Upaya untuk merespon dan memenuhi berbagai tuntutan dan perkembangan lingkungan, termasuk pelanggan sekolah adalah dengan  menjadikan sekolah sebagai Learning Organization yang diwujudkan melalui dukungan organisasi yang kuat terhadap pengembangan dan perbaikan secara signifikan.

Saran
            Dari makalah yang penulis sampaikan kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun, serta arahan dan bimbingan dari semua pihak, terutama Dosen Pembimbing. Semoga makalah ini dapat bermanfaat baik bagi para para pembaca khususnya bagi kami selaku penulis.





DAFTAR  PUSTAKA

O’Connor, T. Foundations of Organizational Theory. Tersedia online : http://www.apsu.edu/oconnort/4000/4000lect01.htm. [15 Juli 2008].
Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan.
Sutisna, Oteng. 1993.Administrasi Pendidikan : Dasar Teoritis Untuk Praktek Profesional. Bandung : Angkasa.
Umar Tirtarahardja dan La Solo.2005.Pengantar pendidikan.Jakarta: Rineka Cipta.
Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Yuki, Gary. (1989). Leadership In Organization (second edition). New Jersey : Prentice Hall.

makalah desentralisasi pendidikan(pendahuluan)


BAB I

PENDAHULUAN
1.1.            Latar Belakang
Desentralisasi tidak lagi suatu konsep tetapi mulai diimplementasikan pada semua tingkat manajemen, tidak terkecuali pada tatanan kelembagaan sistem maupun satuan pendidikan, baik pada jalur pendidikan formal maupun nonformal, dilingkungan persekolahan atau diluar persekolahan. Implementasi pada tatanan kelembagaan pendidikan sungguh sangat berarti, karena fungsi dan peranan kelembagaan tersebut sangat stratejik dalam pembangunan peradaban bangsa.
Pada bab ini, kita akan mencoba mempelajari dua aspek penting,  yaitu: makna yang hakiki desentralisasi dalam manajemen pendidikan, dan ruang lingkup desentralisasi dalam administrasi dan manajemen pendidikan.
1.2.                 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, maka yang menjadi permasalahan dan diungkapkan dalam makalah ini adalah :
1     Apakah Pengertian Desentralisasi Sistem Pendidikan Nasional?
2     Apakah Hakikat Desentralisasi Manajemen Pendidikan?
3     Bagaimanakah Proses Organisasi Kelembagaan Pendidikan?
4     Apa Sajakah Ruang Lingkup Desentralisasi Manajemen Pendidikan?
5     Bagaimanakah  Konsep Umum Standarisasi Mutu Sarana dan Prasarana Pendidikan?
6   Apakah Prinsip-prinsip dalam Pengembangan dan Inovasi Sarana dan Prasarana Pendidikan?

1.3.Manfaat
Dengan dibuatnya makalah ini diharapkan pembaca dapat memperoleh informasi mengenai Desentralisasi Sistem Pendidikan Nasional, dengan demikian semoga mahasiswa akan dapat memahami lebih jauh dan tidak buta akan desentralisaii pendidikan yang ada di lembaga pendidikan.

EXAMPLE OF ESSAY


Only Crazy Student is Not Like Her

Perfect, that is a word which imagine in student’s mind, when they known Miss Fatimah. She is an Islamic Education teacher in my senior high school. Miss Fatimah has a lot of special things, therefore I think only crazy sudent is not like her.
The first special thing which make me like Miss Fatimah is her teaching methode. She always use teaching equipment, when she taught us. For example, projector, whom always she brought for support her matter. On the other hand, she gave a motivation word in the middle of teach. As a result, we got spirit and never bored for study with her. In short, study with Miss Fatimah made us enjoy in the class.
The Scond special thing is her beautiful. Miss Fatimah has beauty physical that made students was not twinkle, when they looked her. Even, my friend blundered into the door because it. And then, beside of her beauty physical, she has inner beauty, too. One of sample, she has a tender heart. She never angry or disrespect, but she always gave us smile everytime. In short, she is perfect teacher in my eyes.
Next, the special thing that made student like Miss Fatimah is her kindness. She is very care to us. At the time, I did not bring much money for buy something, and then suddenly she came to me for gave it. I was shock because that, but I like her very much. Beside that, she was very like to help. Whoever need a help, she would come to do something for it. Student or the other teacher was not be a reason for not help. In short, she was my very kind hero.
In summary, Miss Fatimah is a perfect teacher that I known. She is beatiful, kind, and she has the best teaching methode. Those are the special things that made me like her, even all of student in my school, too. Therefore, if anyone is not like her, I can make sure myself that they are crazy. 

Jumat, 11 Januari 2013

contoh ESSAY


CAUSE OF DOESN’T HAS A DREAM

            Dream is the something special for several people in the world, because live without of a dream is like a live without direction.  But it’s not all of the people who thinks like that, there are some people think nothing of about it, even they think a dream is the crazy thing.
            There are many things that is caused by the absence a dream in the live. First, someone that doesn’t has a dream in the live won’t has spirit for live. It is caused by there is no expectation in the future of her live, therefore they that don’t have a dream look like lazy and confuse in their activities. For example when they were working or studying. In short, if we don’t have a dream, our live will be lazy and there is no spirit in the live.
            Second, something will happen if we don’t have a dream is shortness the confidence in the live. The shortness confidence in the live will give a result that discontentment in the every activities. On the other hand, the shortness confidence in the live will make down our prestige, it’s caused by the doubtfullness in theirself. As a result, they will choose for silent in the back of the other people. In short, one of the things that is had by us in order to confident in the live is we have to have a dream.
            Third, let’s dream in order to we get the imminence with God. That is the something happen if we have a dream in the live, because if we have a dream, of course we always to pray and because that, we will get the imminence with God. But in contrast, if we don’t have a dream, perhaps we can be far with God. That is signed by appear the laziness in the live, axcatly in the activites of the religion ceremony. Therefore, if we don’t have a dream, our live will be far with God.
            Beside of the things that was explained above, the something that happen if we don’t have a dream in the live is, we will be lazy to study. The laziness that appear in the live of the person for study, it’s caused by the mistake of think that believe if the live just for now. Therefore, someone is like that will be different about their way to live. They will waste their time for something that unbeneficial. It’s so different with someone that has a dream in their live. Of course, they will use their time for something that can make them get the succes, such us study, read a book, go to library, make discuss some issue or debate about knowledge. In short, the lazy to study that will be gotten by us if we don’t have a dream in the live.
             In summary, we have to have a dream in the live, in order to our live will be peace and happy. Because if we don’t have a dream, of course something is like that will happen in our live, such us there is no spirit in the live, shortness confidence, far with the God or we will be someone that lazy to study. Thus, let’s dream highly, but don’t be dreamer without action.     

Rabu, 19 Desember 2012

Mooza Alkaz Institute "Meraih sukses dalam Taat"